Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Danish Dutch English French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Portuguese Russian Spanish

Cari Arsip Berita

JAKARTA - Akses internet di sekolah yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih rendah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat baru 63,4% sekolah di daerah 3T yang sudah terkoneksi internet. 

Kemendikbud bekerja sama dengan Kemenkominfo mengadakan program Universal Service Obligation (USO) untuk menyediakan akses internet di122 kabupaten daerah tertinggal, terdepan, dan terluar dari 24 provinsi. 

Saat ini Kemendikbud telah mengusulkan 659 sekolah akan menerima bantuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui program USO pada 2017. Berdasarkan Data Kemendikbud, di 122 kabupaten tersebut terdapat 35.478 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Dari jumlah tersebut, diketahui 12.988 (36,60%) sekolah belum memiliki koneksi internet.

“Pemerintah akan membantuin frastruktur dan juga latih sumberdaya manusianya,” kata Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud Gogot Suharwoto di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Dia memaparkan, Kemendikbud bakal menyediakan datadan lokasi sekolah. Kemudian rencana penggunaan akses internet yang dibutuhkan, menyiapkan sarana dan prasarana akses komputer, melakukan pelatihan kepada guru dan siswa dalam pemanfaatan TIK, serta melakukan monitoring, evaluasi, dan memberikan laporan terhadapperkembangan TIK didaerah 3T.

Rincian 659 sekolah yang diberi afirmasi TIK, yakni 28 sekolah di Provinsi Aceh, 1 (Bali), 7(Banten), 13 (Bengkulu), 16(Gorontalo), 2 (Jambi), 5 (Jabar), 1 (Jateng), 14 (Jatim), 34(Kalbar), 5 (Kalsel), 6 (Kalteng),6 (Kaltim), 8 (Kaltara), 6 (Babel),13 (Kepri), 11 (Lampung), 83 (Maluku), 47 (Malut), 54(NTB), 80 (NTT), 42 (Papua), 23 (Papua Barat), 12 (Riau), 18(Sulbar), 10 (Sulsel), 25 (Sulteng),5 (Sulut), 19 (Sulteng), 17(Sumbar), 18 (Sumsel), 28(Sumut), dan 2 (DIY).

Dalam pengembangan TIK di daerah 3T, Kemendikbud juga telah melakukan bimbinganteknis, baik on site maupun mengundang pengelola TIK ke Jakarta atau Surabaya. Tahun ini sudah 164 sekolah di daerah 3T untuk guru atau pengelola TIK diberikan pendidikan dan pelatihan. 

“Pada tahun sebelumnya,tahun 2015 sebanyak67 sekolah dan tahun 2016 sebanyak 111 sekolah,” katanya. Wakil Ketua Komisi X DPR Ferdiansyah berpendapat, guru dan tenaga kependidikan harus memiliki budaya dan kompetensi TIK. 

“Jika tak memiliki budaya dan kompetensi TIK, maka pendidikan kita akan ketinggalan. Faktanya, masih banyakguru belum bisa menyalakan dan mematikan komputer,” katanya. Politikus Golongan Karya inimenjelaskan, guru yang menguasai TIK akan termotivasi menjadi guru pembelajar. 

TIK juga bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar. Sebagai contoh, mencari bahan tambahan materi pembelajaran melalui internet atau mencari metode proses pembelajaran yang benar. Guru juga bisa membuat diskusi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)melalui fasilitas internet dan telepon seluler. 

sumber : kemdikbud