Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Danish Dutch English French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Portuguese Russian Spanish

Cari Arsip Berita

Presiden Joko Widodo mengakui pendidikan di Indonesia selama ini stagnan. Hal itu lantaran metode pembelajaran yang digunakan tak berkembang.

Pernyataan Jokowi ini menjawab masukan dari Adamas Belva Syah Devara, CEO Ruangguru.com, dalam forum diskusi di acara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Istana Bogor, Jawa Barat. Teknologi dinilai cara untuk mengembangkan pendidikan agar Indonesia tak tertinggal dari negara lain. "Kita memang sudah terlalu lama, pendidikan kita ini monoton," kata Jokowi, Sabtu 28 Oktober 2017.

Di era kepempinannya, perubahan pada sistem pendidikan baru mulai dilakukan. Ia mengaku merombak secara total pendidikan di Tanah Air.

Jika perombakan tak dilakukan, ia menyebut sistem pendidikan di Indonesia akan terus tertinggal dari negara lain. Ia mengakui tak mudah memperbaiki sistem pendidikan di negara yang memiliki ribuan pulau.

Karena itu, ia sepakat dengan Belva, harus ada diberikan sentuhan tekonolgi untuk memperbaiki sistem pendidikan di Tanah Air.

"Saya kira perubahan akan nampak kalau kita berani gunakan aplikasi sistem yang memudahkan anak-anak untuk belajar. Dan, saya senang, kalau anak-anak kita tidak belajar di ruangan saja, tergantung level," ujar dia.

Ia mencontohkan anak Sekolah Dasar. Ia menilai orangtua bisa mengajak anaknya untuk sesekali ikut ke bank. Di sana, anak tersebut bisa mengenal tentang sistem keuangan, perbankan.

"Bisa saja diajak ke museum untuk mengenalkan sejarah secara real, mengenalkan artefak lama. Yang konkret. Kita sudah terlalu lama selalu belajar di ruangan," pungkas dia.

sumber : metronews